Kursus dan belajar komputer ms office, digital marketing, web programming, jaringan, linux, windows server, php, vb.net, mysql, mikrotik, seo, web desain, wordpress, cysco, database, oracle di cileungsi

Postingan Terbaru

Rabu, 04 Oktober 2017

Hidup adalah perjuangan - cerita motivasi

        Roy Sasongko adalah seorang ahli teknologi chip processor yang masih berusia belia, penuh bakat, punya intelektualitas memadai dan bermasa depan cerah. Roy bekerja pada perusahaan yang bernama PT. Fast Manufacturing Processor, suatu perusahaan multinasional berbasis IT yang cukup disegani. Sebagai lulusan dari sebuah institut teknologi terkemuka , Roy masuk ke perusahaan dengan langsung mendapatkan promosi dan posisi yang cukup tinggi, mengingat IPnya yang mencapai 3,25. Namun dalam 6 tahun berikutnya, ia memutuskan meninggalkan perusahaan dengan kondisi yang mengecewakan. Apakah yang terjadi sebenarnya?
         Setiap hari bekerja, Roy melakukan kegiatan di ruang lingkup pekerjaannya dengan cukup baik. Awal mulanya pengetahuannya yang didapat di bangku kuliah dan hasil observasi yang cukup mendalam pada waktu magang di perusahaan lain sangat bermanfaat. Rutinitas pekerjaan tiap-tiap hari dijalaninya. Namun sayangnya, Roy sangat terpaku pada pekerjaan yang dilakukannya dan mengabaikan penambahan pengetahuan dan informasi. Ia berencana berlangganan majalah IT sesuai bidang keahliannya, edisi awal ia baca dan pelajari dengan baik, namun edisi-edisi berikutnya hanya menumpuk sebagai pajangan saja hingga akhirnya ia memutuskan berhenti berlangganan majalah tersebut.
                Sempat terpikir juga untuk mengambil kuliah pasca sarjana, namun angan-angan tersebut hanya menjadi impian saja karena sehabis bekerja, Roy segera pulang ke rumahnya, mengendarai mobil yang membutuhkan waktu 1 jam 30 menit perjalanan, ia terlalu lelah dan menghabiskan waktunya dengan menonton televisi selama beberapa jam, bersandar di kursi empuk kesayangannya sebelum tidur.
Rencana untuk mengambil kursus tambahan, hanya sampai di keinginan saja.Suatu ketika perusahaan bermaksud mengirimkan Roy mengikuti program magister keluar negri selama 1 tahun penuh, dengan biaya kantor agar ia dapat memperdalam ilmu chip prosesornya. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal: keluarganya, kejemuan bersekolah, kehilangan teman, ia meminta agar hal tersebut ditunda dahulu.
                Pernah perusahaan bermaksud mengirimkannya ke training bagi para manager secara intensif selama 3 minggu full yang diselenggarakan lembaga V Consulting, lembaga pengembangan diri terkemuka – di luar kota, lagi-lagi Roy menolaknya, mengingat pada waktu itu adalah masa liburan sekolah anaknya dan istrinya sedang hamil, sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan
                Roy juga kurang membangun jaringan dengan para ahli di bidangnya, kehidupannya bekisar antara pekerjaan dan keluarga. Ada beberapa temannya yang mengajaknya untuk bergabung dalam Himpunan Profesional Insinyur ICT Indonesia, yang senantiasa mengadakan pertemuan rutin seminggu sekali untuk membahas kemajuan serta perkembangan terbaru ilmu pengetahuan IT maupun profesi mereka. Dalam prakteknya keanggotaannya adalah keanggotaan tidak aktif, karena ia lebih suka menghabiskan waktu berjalan-jalan, bermain game komputer dan menonton televisi di rumahnya.
                Dapat dikatakan bahwa Roy praktis tidak pernah lagi menambah pengetahuan apapun, kecuali ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah dan pekerjaan rutin yang dilakukannya. Pihak perusahaan pun mulai menyadari hal ini dan melihat bahwa kontribusi Roy ke perusahaan tidak kunjung mengalami peningkatan berarti. Kesempatan mengembangkan diri juga senantiasa ditolaknya. Tahun-tahun berikutnya Roy merasakan bahwa perusahaan bertindak kurang adil kepadanya karena dalam proses penilaian ia selalu gagal dipromosikan, ia merasa kecewa dan frustasi mengingat ia merupakan seorang lulusan universtias terkemuka dengan Indeks Prestasi yang cukup tinggi. Ia menganggap bahwa pekerjaan yang dilakukannya sudah cukup baik. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar.
Sementara itu, Elok Hestiningrum, masuk ke sebuah Bank Swasta nasional terkemuka dari level “clerk”, ia hanya seorang dengan kemampuan biasa, IPnya hanya 2,6 dari skala 4 dari sebuah universitas swasta baru dan berlokasi agak di pinggir kota Jakarta. Ia melamar sebagai Teller dan harus membagi waktu antara kuliah dan memberikan les privat kepada murid SMA untuk membiayai kuliahnya. Bagaimana masa depannya? Seperti kebanyakan orang dengan kemampuan tidak istimewa, orang-orang melihat masa depan Elok biasa-biasa saja.
                Pekerjaannya dilakukan dengan tekun dan perhatian, bukan hanya hal teknis namun juga hubungan dengan customer ia tekuni. Di sela-sela kesibukan bekerja ia mengambil kursus mengenai operasional perbankan dan ilmu service mengenai cara melayani pelanggan. Jarah tempuh dari rumah ke kantor yang memakan waktu 4 jam tiap-tiap hari, ia manfaatkan waktu di bus dengan membaca buku-buku yang memperdalam pengetahuannya. Setahun menjabat sebagai Teller, mengingat kecakapannya dalam bersosialisasi ia dipindahkan ke bagian Customer Service. Ia melakukan tugasnya dengan prima dan berpengaruh kepada hasil yang dicapai oleh cabang tersebut. Selang 3 tahun bekerja Elok dipromosikan untuk menduduki kepala cabang yang bertanggung jawab atas operasional, marketing dan kredit. Elok cukup mengetahui dasar-dasar marketing, namun mengenai kredit ia masih buta. Ia segera mengambil training tentang kredit serta menambah pengetahuannya di bidang pemasaran. Tidak lupa ia juga menjalin relasi dengan rekan-rekan kuliahnya dan kolega-kolega di bidang marketing, kredit maupun operasional.
Suatu ketika perusahaan menwarkan Elok untuk mengikuti training Leadership selama 2 minggu penuh di luar kota. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan. Saat rekan-rekannya mengangap training ini sebagai refreshing, ia menganggap sebagai kesempatan untuk mendapatkan hal-hal baru untuk dipraktekkan dalam pekerjaan sehari-hari. Prinsip-prinsip leadership yang didapat waktu training ia jalankan pada saat kembali ke pekerjaannya dengan konsisten dan disiplin.

                Pada tahun ke 5 di Bank tersebut, Elok telah berkemban pesat, menguasai pekerjaan, mempunyai kemampuan operasional dan marketing yang mencukupi, serta memiliki kemampuan memimpin yang cukup menonjol dan jaringan yang cukup luas. Akhirnya ia ditarik ke kantor wilayah dan dipromosikan kembali pada tahun ke 6 untuk menjadi pemimpin wilayah Jakarta Selatan.Pengembangan dirinya tidak berhenti sampai disitu, Elok menyempatkan diri untuk mengambil kuliah pasca sarjana pada tahun ke 7 dengan biaya sendiri. Keinginannya yang kuat untuk terus berkembang, ketekunannya dalam melakukan pekerjaan, membuat wawasannya juga semakin luas, tidak heran pada tahun ke 10 ia diangkat menjadi Kepala Divisi Retail Business di Bank tersebut. Sampai dengan saat ini, Elok masih tetap aktif belajar, mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang berguna sambil menikmati pekerjaannya.

Semoga bermanfaat..